Power Ragers
Tribun bebas March 17th, 2008Pada tulisan ini saya akan coba membahas masalah mendasar dalam dunia teknologi komunikasi, yang mungkin jarang dibahas khususnya oleh teman-teman 4G yaitu Power System. Ditambah lagi dengan harga minyak yang semakin melonjak per barelnya, serta kemungkinan ‘habis’nya sumber alam itu sendiri, kita perlu ‘sedikit’ menyisihkan waktu untuk memikirkan hal ini. Overview ini semoga dapat (setidaknya) membuka mata dan syukur bisa menumbuhkan ide solusi.
Saya akan mulai dari sistem ‘klasik’ (PLN atau Genset) sebagai sumber penghasil listrik (saya sebut klasik, karena selama ini untuk mendapatkan catuan daya kita menggunakan PLN atau genset. Lain kali mungkin akan kita bahas juga bermacam teknologi alternatif sebagai sumbernya, misal tenaga surya, kincir angin, dsb). Research tentang teknologi telekomunikasi selama ini yang kita lakukan hampir ‘mengabaikan’ masalah power. Kebanyakan masih bertopik tentang KKC (kapasitas, kecepatan, cakupan) dan sangat sedikit yang peduli dengan masalah power. Kita (khususnya penulis sendiri) sangat jarang menemukan penelitian tentang teknologi masa depan dikaitkan dengan kebutuhan daya. Misal saja, bagaimana desain perangkat telekomunikasi masa depan dengan kecepatan tinggi tetapi dengan membutuhkan sedikit saja daya.

Padahal masalah power sangat krusial terutama di luar pulau Jawa kalau di Indonesia (seingat penulis kalau tidak salah, di koran pernah disebut sekitar 80% konsumsi PLN di Indonesia adalah Jawa dan Bali sisanya 20% baru dibagi ke seluruh pulau Indonesia). Semua perangkat membutuhkan catuan daya (listrik), pada umumnya perangkat telekomunikasi membutuhkan catuan DC (Direct Current) sedangkan source yang kita punya (PLN atau Genset) menghasilkan catuan AC (Alternating Current). Disini kita butuh perangkat yang merubah dari tegangan AC (arus bolak balik) menjadi DC (arus searah), yaitu Rectifier. Agaknya kita patut berterima kasih kepada Pak John yang telah menciptakan rectifier (penyearah) di tahun 1904.

Load yang dimaksud diatas adalah perangkat itu sendiri, misal BTS, BSC, MSC dan sebagainya. Pada umumnya load juga berisi baterai yang nantinya digunakan sebagai cadangan kalau sumber tegangan mengalami masalah (seperti yang kita alami akhir-akhir ini). Bisa kita bayangkan berapa daya yang harus disediakan untuk memenuhi kebutuhan perangkat telekomunikasi (saja). Dimana untuk memenuhi hal tersebut apa pernah kita berpikir Bahan Bakarnya harus ambil darimana lagi.

Mungkin kita sudah harus mulai pikirkan bagaimana membuat sebuah prototype teknologi minim daya. Mengingat keterbatasan source yang ada, juga perlu dipikirkan mungkin inovasi-inovasi ‘sumber daya’ yang melimpah disekitar kita (misal angin, petir, hujan, panas, dan sebagainya) sebagai teknologi alternatif.
Warm Regards
Saran & kritik: dani_balsem@yahoo.co.id
~
Just to Know
Listrik mengalir dari saluran positif ke saluran negatif. Dengan listrik arus searah jika kita memegang hanya kabel positif (tapi tidak memegang kabel negatif), listrik tidak akan mengalir ke tubuh kita (kita tidak terkena strum). Demikian pula jika kita hanya memegang saluran negative.
March 17th, 2008 at 5:04 pm
Ada lagi salah satu energi alternative yang sangat potential, yaitu Love Power!
Dengan kekuatan cinta aku akan menghukummu.. jreng.. jreng… ! ckckck…
March 17th, 2008 at 5:34 pm
waw.. keren kk..
March 17th, 2008 at 6:00 pm
wes pak RT..
umbahen kucing e bunali ae..
March 17th, 2008 at 7:37 pm
ce…. kangen… spertinya kata pak RT ttg love power emang kuat ce… sampe2 aku kangen ngene ce.
Bagus2 mantaf
July 23rd, 2009 at 12:38 am
Betul banget, baru aja tahu, kalo beban di MSC sekitar 455 Adc (catuan di MSC malang),belum lagi tiap BTS yang perlu catuan lagi,..musti ada penelitian lanjut ni